Wednesday, December 3, 2008

Kisah Nabi Musa dengan seorang penzina.

Kisah Nabi Musa dengan seorang penzina.

Pada suatu senja yang lenggang, terlihat seorang wanita berjalan
terhuyung-huyung. Pakaiannya yang serba hitam menandakan bahwa ia
berada dalam dukacita yang mencekam. Kerudungnya menangkup rapat
hampir seluruh wajahnya. Tanpa hias muka atau perhiasan menempel di
tubuhnya. Kulit yang bersih, badan yang ramping dan roman mukanya
yang ayu, tidak dapat menghapus kesan kepedihan yang tengah meruyak
hidupnya. Ia melangkah terseret-seret mendekati kediaman rumah Nabi
Musa a.s. Diketuknya pintu pelan- pelan sambil mengucapkan uluk
salam. Maka terdengarlah ucapan dari dalam "Silakan masuk".

Perempuan cantik itu lalu berjalan masuk sambil kepalanya terus
merunduk. Air matanya berderai tatkala ia Berkata, "Wahai Nabi
Allah.
Tolonglah saya. Doakan saya agar Tuhan berkenan mengampuni dosa keji
saya."
"Apakah dosamu wahai wanita ayu?" tanya Nabi Musa a.s. terkejut.
"Saya takut mengatakannya."jawab wanita cantik. "Katakanlah jangan
ragu-ragu!" desak Nabi Musa.

Maka perempuan itupun terpatah bercerita, "Saya... telah berzina.



"Kepala Nabi Musa terangkat,hatinya tersentak. Perempuan itu
meneruskan,
"Dari perzinaan itu saya pun...lantas hamil. Setelah anak itu
lahir,langsung saya... cekik lehernya sampai... tewas," ucap wanita
itu seraya menangis sejadi-jadinya.

Nabi Musa berapi-api matanya. Dengan muka berang ia
mengherdik, "Perempuan bejad, enyah kamu dari sini! Agar siksa Allah
tidak jatuh ke dalam rumahku karena perbuatanmu. Pergi!"... teriak
Nabi Musa sambil memalingkan mata karena jijik.

Perempuan berwajah ayu dengan hati bagaikan kaca membentur batu,
hancur luluh segera bangkit dan melangkah surut. Dia terantuk-antuk
keluar dari dalam rumah Nabi Musa. Ratap tangisnya amat memilukan.Ia
tak tahu harus kemana lagi hendak mengadu. Bahkan ia tak tahu mau
dibawa kemana lagi kaki-kakinya. Bila seorang Nabi saja sudah
menolaknya, bagaimana pula manusia lain bakal menerimanya?
Terbayang olehnya betapa besar dosanya, betapa jahat perbuatannya.
Ia tidak tahu bahwa sepeninggalnya, Malaikat Jibril turun mendatangi
Nabi Musa.

Sang Ruhul Amin Jibril lalu bertanya, "Mengapa engkau menolak seorang
wanita yang hendak bertaubat dari dosanya? Tidakkah engkau tahu dosa
yang lebih besar daripadanya?" Nabi Musa terperanjat. "Dosa apakah
yang lebih besar dari kekejian wanita pezina dan pembunuh itu?" Maka
Nabi Musa dengan penuh rasa ingin tahu bertanya kepada
Jibril. "Betulkah ada dosa yang lebih besar daripada perempuan yang
nista itu?"

"Ada!" jawab Jibril dengan tegas. "Dosa apakah itu?" tanya Musa kian
penasaran."Orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja dan tanpa
menyesal.
Orang itu dosanya lebih besar dari pada seribu kali berzina"

Mendengar penjelasan ini Nabi Musa kemudian memanggil wanita tadi
untuk menghadap kembali kepadanya. Ia mengangkat tangan dengan khusuk
untuk memohonkan ampunan kepada Allah untuk perempuan tersebut. Nabi
Musa menyedari, orang yang meninggalkan sembahyang dengan sengaja dan
tanpa penyesalan adalah sama saja seperti berpendapat bahwa
sembahyang itu tidak wajib dan tidak perlu atas dirinya. Berarti ia
seakan-akan menganggap remeh perintah Tuhan, bahkan seolah-olah
menganggap Tuhan tidak punya hak untuk mengatur dan memerintah hamba-
Nya.

Sedang orang yang bertobat dan menyesali dosanya dengan sungguh-
sungguh berarti masih mempunyai iman di dadanya dan yakin bahwa Allah
itu berada di jalan ketaatan kepada-Nya. Itulah sebabnya Tuhan pasti
mau menerima kedatangannya. (Dikutip dari buku 30 kisah teladan - KH
Abdurrahman Arroisy)

Dalam hadis Nabi SAW disebutkan : Orang yang meninggalkan sholat
lebih besar dosanya dibanding dengan orang yang membakar 70 buah Al-
Qur'an, membunuh 70 nabi dan bersetubuh dengan ibunya di dalam
Ka'bah. Dalam hadis yang lain disebutkan bahwa orang yang
meninggalkan sholat sehingga terlewat waktu, kemudian ia mengqadanya,
maka ia akan disiksa dalam neraka selama satu huqub. Satu huqub
adalah delapan puluh tahun. Satu tahun terdiri dari 360 hari,
sedangkan satu hari diakherat perbandingannya adalah seribu tahun di
dunia.

Demikianlah kisah Nabi Musa dan wanita penzina dan dua hadis Nabi,
mudah-mudahan menjadi pelajaran bagi kita dan timbul niat untuk
melaksanakan kewajiban sholat dengan istiqomah. Tolong sebarkan
kepada saudara-saudara kita yang belum mengetahui.

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaa ilaaha illa anta,
astaghfiruka wa atuubuilaiik.

dari dakwah.net
 
My personal webhttp://pujakesula.blogspot.com  or  http://endyenblogs.multiply.com/journal 


Kisah Cinta Zahid kpd Afirah

KOTA KUFAH terang oleh sinar purnama. Semilir angin yang bertiup
dari utara membawa hawa sejuk. Sebagian rumah telah menutup pintu
dan jendelanya. Namun geliat hidup kota Kufah masih terasa. Di
serambi masjid Kufah, seorang pemuda berdiri tegap menghadap kiblat.
Kedua matanya memandang teguh ke tempat sujud. Bibirnya bergetar
melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran. Hati dan seluruh gelegak jiwanya
menyatu dengan Tuhan, Pencipta alam semesta. Orang-orang
memanggilnya "Zahid" atau "Si Ahli Zuhud", karena kezuhudannya
meskipun ia masih muda.
Dia dikenal masyarakat sebagai pemuda yang paling tampan dan paling
mencintai masjid di kota Kufah pada masanya. Sebagian besar waktunya
ia habiskan di dalam masjid, untuk ibadah dan menuntut ilmu pada
ulama terkemuka kota Kufah. Saat itu masjid adalah pusat peradaban,
pusat pendidikan, pusat informasi dan pusat perhatian.
Pemuda itu terus larut dalam samudera ayat Ilahi. Setiap kali sampai
pada ayat-ayat azab, tubuh pemuda itu bergetar hebat. Air matanya
mengalir deras. Neraka bagaikan menyala-nyala dihadapannya. Namun
jika ia sampai pada ayat-ayat nikmat dan surga, embun sejuk dari langit
terasa bagai mengguyur sekujur tubuhnya. Ia merasakan kesejukan dan
kebahagiaan. Ia bagai mencium aroma wangi para bidadari yang suci.
Tatkala sampai pada surat Asy Syams, ia menangis,
"fa alhamaha fujuuraha wa taqwaaha.
qad aflaha man zakkaaha.
wa qad khaaba man dassaaha
…"
(maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan
ketaqwaan,sesungguhnya, beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,
dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya…)
Hatinya bertanya-tanya. Apakah dia termasuk golongan yang
mensucikan jiwanya. Ataukah golongan yang mengotori jiwanya? Dia
termasuk golongan yang beruntung, ataukah yang merugi? Ayat itu ia
ulang berkali-kali. Hatinya bergetar hebat. Tubuhnya berguncang.
Akhirnya ia pingsan.
***
Sementara itu, di pinggir kota tampak sebuah rumah mewah bagai
istana. Lampu-lampu yang menyala dari kejauhan tampak berkerlapkerlip
bagai bintang gemintang. Rumah itu milik seorang saudagar kaya
yang memiliki kebun kurma yang luas dan hewan ternak yang tak
terhitung jumlahnya. Dalam salah satu kamarnya, tampak seorang gadis
jelita sedang menari-nari riang gembira. Wajahnya yang putih susu
tampak kemerahan terkena sinar yang terpancar bagai tiga lentera yang
menerangi ruangan itu. Kecantikannya sungguh memesona. Gadis itu
terus menari sambil mendendangkan syair-syair cinta,
"in kuntu 'asyiqatul lail fa ka'si
musyriqun bi dhau'
wal hubb al wariq
…"
(jika aku pencinta malam maka
gelasku memancarkan cahaya
dan cinta yang mekar…)
***
Gadis itu terus menari-nari dengan riangnya. Hatinya berbunga-bunga.
Di ruangan tengah, kedua orangtuanya menyungging senyum mendengar
syair yang didendangkan putrinya. Sang ibu berkata,
"Abu Afirah, putri kita sudah menginjak dewasa. Kau dengarkanlah
baik-baik syair-syair yang ia dendangkan."
"Ya, itu syair-syair cinta. Memang sudah saatnya dia menikah. Kebetulan
tadi siang di pasar aku berjumpa dengan Abu Yasir. Dia melamar Afirah
untuk putranya, Yasir."
"Bagaimana, kau terima atau…?"
"Ya jelas langsung aku terima. Dia 'kan masih kerabat sendiri dan kita
banyak berhutang budi padanya. Dialah yang dulu menolong kita waktu
kesusahan. Di samping itu Yasir itu gagah dan tampan."
"Tapi bukankah lebih baik kalau minta pendapat Afirah dulu?"
"Tak perlu! Kita tidak ada pilihan kecuali menerima pinangan ayah
Yasir. Pemuda yang paling cocok untuk Afirah adalah Yasir."
"Tapi, engkau tentu tahu bahwa Yasir itu pemuda yang tidak baik."
"Ah, itu gampang. Nanti jika sudah beristri Afirah, dia pasti juga akan
tobat! Yang penting dia kaya raya."
***
Pada saat yang sama, di sebuah tenda mewah, tak jauh dari pasar Kufah.
Seorang pemuda tampan dikelilingi oleh teman-temannya. Tak jauh
darinya seorang penari melenggak lenggokan tubuhnya diiringi suara
gendang dan seruling.
"Ayo bangun, Yasir. Penari itu mengerlingkan matanya padamu!" bisik
temannya.
"Be…benarkah?"
"Benar. Ayo cepatlah. Dia penari tercantik kota ini. Jangan kau sia-siakan
kesempatan ini,Yasir!"
"Baiklah. Bersenang-senang dengannya memang impianku."
Yasir lalu bangkit dari duduknya dan beranjak menghampiri sang penari.
Sang penari mengulurkan tangan kanannya dan Yasir menyambutnya.
Keduanya lalu menari-nari diiringi irama seruling dan gendang.
Keduanya benar-benar hanyut dalam kelenaan. Dengan gerakan mesra
penari itu membisikkan sesuatu ketelinga Yasir,
"Apakah Anda punya waktu malam ini bersamaku?"
Yasir tersenyum dan menganggukan kepalanya. Keduanya terus menari
dan menari. Suara gendang memecah hati. Irama seruling melengkinglengking.
Aroma arak menyengat nurani. Hati dan pikiran jadi mati.
***
Keesokan harinya. Usai shalat dhuha, Zahid meninggalkan masjid
menuju ke pinggir kota. Ia hendak menjenguk saudaranya yang sakit. Ia
berjalan dengan hati terus berzikir membaca ayat-ayat suci Al-Quran. Ia
sempatkan ke pasar sebentar untuk membeli anggur dan apel buat
saudaranya yang sakit.
Zahid berjalan melewati kebun kurma yang luas. Saudaranya pernah
bercerita bahwa kebun itu milik saudagar kaya, Abu Afirah. Ia terus
melangkah menapaki jalan yang membelah kebun kurma itu. Tiba-tiba
dari kejauhan ia melihat titik hitam. Ia terus berjalan dan titik hitam itu
semakin membesar dan mendekat. Matanya lalu menangkap di kejauhan
sana perlahan bayangan itu menjadi seorang sedang menunggang kuda.
Lalu sayup-sayup telinganya menangkap suara,
"Toloong! Toloong!!"
Suara itu datang dari arah penunggang kuda yang ada jauh di depannya.
Ia menghentikan langkahnya. Penunggang kuda itu semakin jelas.
"Toloong! Toloong!!"
Suara itu semakin jelas terdengar. Suara seorang perempuan. Dan
matanya dengan jelas bisa menangkap penunggang kuda itu adalah
seorang perempuan. Kuda itu berlari kencang.
"Toloong! Toloong hentikan kudaku ini! Ia tidak bisa dikendalikan!"
Mendengar itu Zahid tegang. Apa yang harus ia perbuat. Sementara
kuda itu semakin dekat dan tinggal beberapa belas meter di depannya.
Cepat-cepat ia menenangkan diri dan membaca shalawat. Ia berdiri
tegap di tengah jalan. Tatkala kuda itu sudah sangat dekat ia mengangkat
tangan kanannya dan berkata keras,
"Hai kuda makhluk Allah, berhentilah dengan izin Allah!"
Bagai pasukan mendengar perintah panglimanya, kuda itu meringkik
dan berhenti seketika. Perempuan yang ada dipunggungnya terpelanting
jatuh. Perempuan itu mengaduh. Zahid mendekati perempuan itu dan
menyapanya,
"Assalamu'alaiki. Kau tidak apa-apa?"
Perempuan itu mengaduh. Mukanya tertutup cadar hitam. Dua matanya
yang bening menatap Zahid. Dengan sedikit merintih ia menjawab
pelan,
"Alhamdulillah, tidak apa-apa. Hanya saja tangan kananku sakit sekali.
Mungkin terkilir saat jatuh."
"Syukurlah kalau begitu."
Dua mata bening di balik cadar itu terus memandangi wajah tampan
Zahid. Menyadari hal itu Zahid menundukkan pandangannya ke tanah.
Perempuan itu perlahan bangkit. Tanpa sepengetahuan Zahid, ia
membuka cadarnya. Dan tampaklah wajah cantik nan memesona,
"Tuan, saya ucapkan terima kasih. Kalau boleh tahu siapa nama Tuan,
dari mana dan mau ke mana Tuan?"
Zahid mengangkat mukanya. Tak ayal matanya menatap wajah putih
bersih memesona. Hatinya bergetar hebat. Syaraf dan ototnya terasa
dingin semua. Inilah untuk pertama kalinya ia menatap wajah gadis
jelita dari jarak yang sangat dekat. Sesaat lamanya keduanya beradu
pandang. Sang gadis terpesona oleh ketampanan Zahid, sementara
gemuruh hati Zahid tak kalah hebatnya. Gadis itu tersenyum dengan
pipi merah merona, Zahid tersadar, ia cepat-cepat menundukkan
kepalanya. "Innalillah. Astagfirullah," gemuruh hatinya.
"Namaku Zahid, aku dari masjid mau mengunjungi saudaraku yang
sakit."
"Jadi, kaukah Zahid yang sering dibicarakan orang itu? Yang hidupnya
cuma di dalam masjid?"
"Tak tahulah. Itu mungkin Zahid yang lain." kata Zahid sambil
membalikkan badan. Ia lalu melangkah.
"Tunggu dulu Tuan Zahid! Kenapa tergesa-gesa? Kau mau kemana?
Perbincangan kita belum selesai!"
"Aku mau melanjutkan perjalananku!"
Tiba-tiba gadis itu berlari dan berdiri di hadapan Zahid. Terang saja
Zahid gelagapan. Hatinya bergetar hebat menatap aura kecantikan gadis
yang ada di depannya. Seumur hidup ia belum pernah menghadapi
situasi seperti ini.
"Tuan aku hanya mau bilang, namaku Afirah. Kebun ini milik ayahku.
Dan rumahku ada di sebelah selatan kebun ini. Jika kau mau silakan
datang ke rumahku. Ayah pasti akan senang dengan kehadiranmu. Dan
sebagai ucapan terima kasih aku mau menghadiahkan ini."
Gadis itu lalu mengulurkan tangannya memberi sapu tangan hijau
muda.
"Tidak usah."
"Terimalah, tidak apa-apa! Kalau tidak Tuan terima, aku tidak akan
memberi jalan!"
Terpaksa Zahid menerima sapu tangan itu. Gadis itu lalu minggir sambil
menutup kembali mukanya dengan cadar. Zahid melangkahkan kedua
kakinya melanjutkan perjalanan.
***
Saat malam datang membentangkan jubah hitamnya, kota Kufah
kembali diterangi sinar rembulan. Angin sejuk dari utara semilir
mengalir. Afirah terpekur di kamarnya. Matanya berkaca-kaca. Hatinya
basah. Pikirannya bingung. Apa yang menimpa dirinya. Sejak kejadian
tadi pagi di kebun kurma hatinya terasa gundah. Wajah bersih Zahid
bagai tak hilang dari pelupuk matanya. Pandangan matanya yang teduh
menunduk membuat hatinya sedemikian terpikat. Pembicaraan orangorang
tentang kesalehan seorang pemuda di tengah kota bernama Zahid
semakin membuat hatinya tertawan. Tadi pagi ia menatap wajahnya dan
mendengarkan tutur suaranya. Ia juga menyaksikan wibawanya. Tibatiba
air matanya mengalir deras. Hatinya merasakan aliran kesejukan dan
kegembiraan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dalam hati ia
berkata,
"Inikah cinta? Beginikah rasanya? Terasa hangat mengaliri syaraf. Juga
terasa sejuk di dalam
hati. Ya Rabbi, tak aku pungkiri aku jatuh hati pada hamba-Mu yang
bernama Zahid. Dan inilah untuk pertama kalinya aku terpesona pada
seorang pemuda. Untuk pertama kalinya aku jatuh cinta. Ya Rabbi,
izinkanlah aku mencintainya."
Air matanya terus mengalir membasahi pipinya. Ia teringat sapu tangan
yang ia berikan pada Zahid. Tiba-tiba ia tersenyum,
"Ah sapu tanganku ada padanya. Ia pasti juga mencintaiku. Suatu hari ia
akan datang kemari."
Hatinya berbunga-bunga. Wajah yang tampan bercahaya dan bermata
teduh itu hadir di pelupuk matanya.
***
Sementara itu di dalam masjid Kufah tampak Zahid yang sedang
menangis di sebelah kanan mimbar. Ia menangisi hilangnya kekhusyukan
hatinya dalam shalat. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Sejak ia bertemu
dengan Afirah di kebun kurma tadi pagi ia tidak bisa mengendalikan
gelora hatinya. Aura kecantikan Afirah bercokol dan mengakar
sedemikian kuat dalam relung-relung hatinya. Aura itu selalu melintas
dalam shalat, baca Al-Quran dan dalam apa saja yang ia kerjakan. Ia
telah mencoba berulang kali menepis jauh-jauh aura pesona Afirah
dengan melakukan shalat sekhusyu'-khusyu'-nya namun usaha itu siasia.
"Ilahi, kasihanilah hamba-Mu yang lemah ini. Engkau Mahatahu atas apa
yang menimpa diriku. Aku tak ingin kehilangan cinta-Mu. Namun
Engkau juga tahu, hatiku ini tak mampu mengusir pesona kecantikan
seorang makhluk yang Engkau ciptakan. Saat ini hamba sangat lemah
berhadapan dengan daya tarik wajah dan suaranya Ilahi, berilah padaku
cawan kesejukan untuk meletakkan embun-embun cinta yang menetesnetes
dalam dinding hatiku ini. Ilahi, tuntunlah langkahku pada garis
takdir yang paling Engkau ridhai. Aku serahkan hidup matiku untuk-
Mu." Isak Zahid mengharu biru pada Tuhan Sang Pencipta hati, cinta,
dan segala keindahan semesta.
Zahid terus meratap dan mengiba. Hatinya yang dipenuhi gelora cinta
terus ia paksa untuk menepis noda-noda nafsu. Anehnya, semakin ia
meratap embun-embun cinta itu semakin deras mengalir. Rasa cintanya
pada Tuhan. Rasa takut akan azab-Nya. Rasa cinta dan rindu-Nya pada
Afirah. Dan rasa tidak ingin kehilangannya. Semua bercampur dan
mengalir sedemikian hebat dalam relung hatinya. Dalam puncak
munajatnya ia pingsan.
Menjelang subuh, ia terbangun. Ia tersentak kaget. Ia belom shalat
tahajjud. Beberapa orang tampak tengah asyik beribadah bercengkerama
dengan Tuhannya. Ia menangis, ia menyesal. Biasanya ia sudah membaca
dua juz dalam shalatnya.
"Ilahi, jangan kau gantikan bidadariku di surga dengan bidadari dunia.
Ilahi, hamba lemah maka berilah kekuatan!"
Ia lalu bangkit, wudhu, dan shalat tahajjud. Di dalam sujudnya ia
berdoa,
"Ilahi, hamba mohon ridha-Mu dan surga. Amin. Ilahi lindungi hamba
dari murkamu dan neraka. Amin. Ilahi, jika boleh hamba titipkan rasa
cinta hamba pada Afirah pada-Mu, hamba terlalu lemah untuk
menanggung-Nya. Amin. Ilahi, hamba memohon ampunan-Mu, rahmat-
Mu, cinta-Mu, dan ridha-Mu. Amin."
***
Pagi hari, usai shalat dhuha Zahid berjalan ke arah pinggir kota.
Tujuannya jelas yaitu melamar Afirah. Hatinya mantap untuk
melamarnya. Di sana ia disambut dengan baik oleh kedua orangtua
Afirah. Mereka sangat senang dengan kunjungan Zahid yang sudah
terkenal ketakwaannya di seantero penjuru kota. Afiah keluar sekejab
untuk membawa minuman lalu kembali ke dalam. Dari balik tirai ia
mendengarkan dengan seksama pembicaraan Zahid dengan ayahnya.
Zahid mengutarakan maksud kedatangannya, yaitu melamar Afirah.
Sang ayah diam sesaat. Ia mengambil nafas panjang. Sementara Afirah
menanti dengan seksama jawaban ayahnya. Keheningan mencekam
sesaat lamanya. Zahid menundukkan kepala ia pasrah dengan jawaban
yang akan diterimanya. Lalu terdengarlah jawaban ayah Afirah,
"Anakku Zahid, kau datang terlambat. Maafkan aku, Afirah sudah
dilamar Abu Yasir untuk putranya Yasir beberapa hari yang lalu, dan
aku telah menerimanya."
Zahid hanya mampu menganggukan kepala. Ia sudah mengerti dengan
baik apa yang didengarnya. Ia tidak bisa menyembunyikan irisan
kepedihan hatinya. Ia mohon diri dengan mata berkaca-kaca. Sementara
Afirah, lebih tragis keadaannya. Jantungnya nyaris pecah mendengarnya.
Kedua kakinya seperti lumpuh seketika. Ia pun pingsan saat itu juga.
***
Zahid kembali ke masjid dengan kesedihan tak terkira. Keimanan dan
ketakwaan Zahid ternyata tidak mampu mengusir rasa cintanya pada
Afirah. Apa yang ia dengar dari ayah Afirah membuat nestapa jiwanya.
Ia pun jatuh sakit. Suhu badannya sangat panas. Berkali-kali ia pingsan.
Ketika keadaannya kritis seorang jamaah membawa dan merawatnya di
rumahnya. Ia sering mengigau. Dari bibirnya terucap kalimat tasbih,
tahlil, istigfhar dan … Afirah.
Kabar tentang derita yang dialami Zahid ini tersebar ke seantero kota
Kufah. Angin pun meniupkan kabar ini ke telinga Afirah. Rasa cinta
Afirah yang tak kalah besarnya membuatnya menulis sebuah surat
pendek,
Kepada Zahid,
Assalamu'alaikum
Aku telah mendengar betapa dalam rasa cintamu padaku. Rasa cinta
itulah yang membuatmu sakit dan menderita saat ini. Aku tahu kau
selalu menyebut diriku dalam mimpi dan sadarmu. Tak bisa kuingkari,
aku pun mengalami hal yang sama. Kaulah cintaku yang pertama. Dan
kuingin kaulah pendamping hidupku selama-lamanya.
Zahid,
Kalau kau mau. Aku tawarkan dua hal padamu untuk mengobati rasa
haus kita berdua. Pertama, aku akan datang ke tempatmu dan kita bisa
memadu cinta. Atau kau datanglah ke kamarku, akan aku tunjukkan
jalan dan waktunya.
Wassalam
Afirah
===========================================
Surat itu ia titipkan pada seorang pembantu setianya yang bisa
dipercaya. Ia berpesan agar surat itu langsung sampai ke tangan Zahid.
Tidak boleh ada orang ketiga yang membacanya. Dan meminta jawaban
Zahid saat itu juga.
Hari itu juga surat Afirah sampai ke tangan Zahid. Dengan hati
berbunga-bunga Zahid menerima surat itu dan membacanya. Setelah
tahu isinya seluruh tubuhnya bergetar hebat. Iamenarik nafas panjang
dan beristighfar sebanyak-banyaknya. Dengan berlinang air mata ia
menulis untuk Afirah :
Kepada Afirah,
Salamullahi'alaiki,
Benar aku sangat mencintaimu. Namun sakit dan deritaku ini tidaklah
semata-mata karena rasa cintaku padamu. Sakitku ini karena aku
menginginkan sebuah cinta suci yang mendatangkan pahala dan diridhai
Allah 'Azza Wa Jalla'. Inilah yang kudamba. Dan aku ingin mendamba
yang sama. Bukan sebuah cinta yang menyeret kepada kenistaan dosa
dan murka-Nya.
Afirah,
Kedua tawaranmu itu tak ada yang kuterima. Aku ingin mengobati
kehausan jiwa ini dengan secangkir air cinta dari surga. Bukan air timah
dari neraka. Afirah,
"Inni akhaafu in 'ashaitu Rabbi adzaaba yaumin 'adhim!" ( Sesungguhnya
aku takut akan siksa hari yang besar jika aku durhaka pada Rabb-ku. Az
Zumar : 13 )
Afirah,
Jika kita terus bertakwa. Allah akan memberikan jalan keluar. Tak ada
yang bisa aku lakukan saat ini kecuali menangis pada-Nya. Tidak mudah
meraih cinta berbuah pahala. Namun aku sangat yakin dengan
firmannya :
"Wanita-wanita yang tidak baik adalah untuk laki-laki yang tidak baik,
dan laki-laki yang tidak baik adalah buat wanita-wanita yang tidak baik
(pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik
dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).
Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh
mereka. Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (yaitu surga)."
Karena aku ingin mendapatkan seorang bidadari yang suci dan baik
maka aku akan berusaha kesucian dan kebaikan. Selanjutnya Allahlah
yang menentukan.
Afirah,
Bersama surat ini aku sertakan sorbanku, semoga bisa jadi pelipur lara
dan rindumu. Hanya kepada Allah kita serahkan hidup dan mati kita.
Wassalam,
Zahid
===========================================
Begitu membaca jawaban Zahid itu Afirah menangis. Ia menangis bukan
karena kecewa tapi menangis karena menemukan sesuatu yang sangat
berharga, yaitu hidayah. Pertemuan dan percintaannya dengan seorang
pemuda saleh bernama Zahid itu telah mengubah jalan hidupnya.
Sejak itu ia menanggalkan semua gaya hidupnya yang glamor. Ia
berpaling dari dunia dan menghadapkan wajahnya sepenuhnya untuk
akhirat. Sorban putih pemberian Zahid ia jadikan sajadah, tempat
dimana ia bersujud, dan menangis di tengah malam memohon ampunan
dan rahmat Allah SWT. Siang ia puasa malam ia habiskan dengan
bermunajat pada Tuhannya. Diatas sajadah putih ia menemukan cinta
yang lebih agung dan lebih indah, yaitu cinta kepada Allah SWT. Hal
yang sama juga dilakukan Zahid di masjid Kufah. Keduanya benar-benar
larut dalam samudera cinta kepada Allah SWT.
Allah Maha Rahman dan Rahim. Beberapa bulan kemudian Zahid
menerima sepucuk surat dari Afirah :
Kepada Zahid,
Assalamu'alaikum,
Segala puji bagi Allah, Dialah Tuhan yang memberi jalan keluar hamba-
Nya yang bertakwa. Hari ini ayahku memutuskan tali pertunanganku
dengan Yasir. Beliau telah terbuka hatinya. Cepatlah kau datang
melamarku. Dan kita laksanakan pernikahan mengikuti sunnah
Rasululullah SAW. Secepatnya.
Wassalam,
Afirah
===========================================
Seketika itu Zahid sujud syukur di mihrab masjid Kufah. Bunga-bunga
cinta bermekaran dalam hatinya. Tiada henti bibirnya mengucapkan
hamdalah.h
 
My personal webhttp://pujakesula.blogspot.com  or  http://endyenblogs.multiply.com/journal 


Monday, September 1, 2008

Lentera Jiwa

Oleh: Andy F. Noya


 Banyak yang bertanya mengapa saya mengundurkan diri sebagai pemimpin
 redaksi Metro TV. Memang sulit bagi saya untuk
 meyakinkan setiap orang yang bertanya bahwa saya keluar bukan karena
 'pecah kongsi' dengan Surya Paloh, bukan karena sedang
 marah atau bukan dalam situasi yang tidak menyenangkan. Mungkin terasa
 aneh pada posisi yang tinggi, dengan 'power' yang luar
 biasa sebagai pimpinan sebuah stasiun televisi berita, tiba-tiba saya
 mengundurkan diri.
 Dalam perjalanan hidup dan karir, dua kali saya mengambil keputusan
 sulit. Pertama, ketika saya tamat STM. Saya tidak
 mengambil peluang beasiswa ke IKIP Padang. Saya lebih memilih untuk
 melanjutkan ke Sekolah Tinggi Publisistik di Jakarta
 walau harus menanggung sendiri beban uang kuliah. Kedua, ya itu tadi,
 ketika saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari Metro TV.


    Dalam satu seminar, Rhenald Khasali, penulis buku Change yang saya
 kagumi, sembari bergurau di depan ratusan hadirin mencoba
 menganalisa mengapa saya keluar dari Metro TV. ''Andy ibarat ikan di
 dalam kolam. Ikannya terus membesar sehingga kolamnya
 menjadi kekecilan. Ikan tersebut terpaksa harus mencari kolam yang lebih  besar.''

    Saya tidak tahu apakah pandangan Rhenald benar. Tapi, jujur saja, sejak
 lama saya memang sudah ingin mengundurkan diri dari
 Metro TV. Persisnya ketika saya membaca sebuah buku kecil berjudul Who
 Move My Cheese.Bagi Anda yang belum baca, buku ini
 bercerita tentang dua kurcaci. Mereka hidup dalam sebuah labirin yang
 sarat dengan keju. Kurcaci yang satu selalu berpikiran
 suatu hari kelak keju di tempat mereka tinggal akan habis. Karena itu,
 dia selalu menjaga stamina dan kesadarannya agar jika
 keju di situ habis, dia dalam kondisi siap mencari keju di tempat lain.
 Sebaliknya, kurcaci yang kedua, begitu yakin sampai
 kiamat pun persediaan keju tidak akan pernah habis.

    Singkat cerita, suatu hari keju habis. Kurcaci pertama mengajak
 sahabatnya untuk meninggalkan tempat itu guna mencari keju di
 tempat lain. Sang sahabat menolak. Dia yakin keju itu hanya 'dipindahkan'
 oleh seseorang dan nanti suatu hari pasti akan
 dikembalikan. Karena itu tidak perlu mencari keju di tempat lain. Dia
 sudah merasa nyaman. Maka dia memutuskan menunggu terus
 di tempat itu sampai suatu hari keju yang hilang akan kembali. Apa yang
 terjadi, kurcaci itu menunggu dan menunggu sampai
 kemudian mati kelaparan. Sedangkan kurcaci yang selalu siap tadi sudah
 menemukan labirin lain yang penuh keju. Bahkan jauh
 lebih banyak dibandingkan di tempat lama.

    Pesan moral buku sederhana itu jelas: jangan sekali-kali kita merasa
 nyaman di suatu tempat sehingga lupa mengembangkan diri
 guna menghadapi perubahan dan tantangan yang lebih besar. Mereka yang
 tidak mau berubah, dan merasa sudah nyaman di suatu
 posisi, biasanya akan mati digilas waktu.

    Setelah membaca buku itu, entah mengapa ada dorongan luar biasa yang
 menghentak-hentak di dalam dada. Ada gairah yang luar
 biasa yang mendorong saya untuk keluar dari Metro TV. Keluar dari
 labirin yang selama ini membuat saya sangat nyaman karena
 setiap hari 'keju' itu sudah tersedia di depan mata. Saya juga ingin
 mengikuti 'lentera jiwa' saya. Memilih arah sesuai
 panggilan hati. Saya ingin berdiri sendiri.


    Maka ketika mendengar sebuah lagu berjudul 'Lentera Jiwa' yang
 dinyanyikan Nugie, hati saya melonjak-lonjak. Selain syair dan
 pesan yang ingin disampaikan Nugie dalam lagunya itu sesuai dengan kata
 hati saya, sudah sejak lama saya ingin membagi kerisauan saya kepada 
banyak orang.

 Dalam perjalanan hidup saya, banyak saya jumpai orang-orang yang merasa
 tidak bahagia dengan pekerjaan mereka. Bahkan seorang
 kenalan saya, yang sudah menduduki posisi puncak di suatu perusahaan
 asuransi asing, mengaku tidak bahagia dengan
 pekerjaannya. Uang dan jabatan ternyata tidak membuatnya bahagia. Dia
 merasa 'lentera jiwanya' ada di ajang pertunjukkan
 musik. Tetapi dia takut untuk melompat. Takut untuk memulai dari bawah.
 Dia merasa tidak siap jika kehidupan ekonominya yang
 sudah mapan berantakan. Maka dia menjalani sisa hidupnya dalam dilema
 itu. Dia tidak bahagia.

 Ketika diminta untuk menjadi pembicara di kampus-kampus, saya juga
 menemukan banyak mahasiswa yang tidak happy dengan jurusan
 yang mereka tekuni sekarang. Ada yang mengaku waktu itu belum tahu ingin
 menjadi apa, ada yang jujur bilang ikut-ikutan pacar
 (yang belakangan ternyata putus juga) atau ada yang karena solider pada
 teman. Tetapi yang paling banyak mengaku jurusan yang
 mereka tekuni sekarang -- dan membuat mereka tidak bahagia -- adalah
 karena mengikuti keinginan orangtua.

 Dalam episode Lentera Jiwa (tayang Jumat 29 dan Minggu 31 Agustus 2008),
 kita dapat melihat orang-orang yang berani mengambil
 keputusan besar dalam hidup mereka. Ada Bara Patirajawane, anak diplomat
 dan lulusan Hubungan Internasional, yang pada satu
 titik mengambil keputusan drastis untuk berbelok arah dan menekuni dunia
 masak memasak. Dia memilih menjadi koki. Pekerjaan
 yang sangat dia sukai dan menghantarkannya sebagai salah satu pemandu
 acara masak-memasak di televisi dan kini memiliki
 restoran sendiri. ''Saya sangat bahagia dengan apa yang saya kerjakan
 saat ini,'' ujarnya. Padahal, orangtuanya menghendaki
 Bara mengikuti jejak sang ayah sebagai dpilomat.

 Juga ada Wahyu Aditya yang sangat bahagia dengan pilihan hatinya untuk
 menggeluti bidang animasi. Bidang yang
 menghantarkannya mendapat beasiswa dari British Council. Kini Adit
 bahkan membuka sekolah animasi. Padahal, ayah dan ibunya
 lebih menghendaki anak tercinta mereka mengikuti jejak sang ayah sebagai
 dokter.

 Simak juga bagaimana Gde Prama memutuskan meninggalkan posisi puncak
 sebuah perusahaan jamu dan jabatan komisaris di beberapa
 perusahaan. Konsultan manajemen dan penulis buku ini memilih tinggal di
 Bali dan bekerja untuk dirinya sendiri sebagai public
 speaker.

 Pertanyaan yang paling hakiki adalah apa yang kita cari dalam kehidupan
 yang singkat ini? Semua orang ingin bahagia. Tetapi
 banyak yang tidak tahu bagaimana cara mencapainya.


 Karena itu, beruntunglah mereka yang saat ini bekerja di bidang yang
 dicintainya. Bidang yang membuat mereka begitu
 bersemangat, begitu gembira dalam menikmati hidup. ''Bagi saya, bekerja
 itu seperti rekreasi. Gembira terus. Nggak ada
 capeknya,'' ujar Yon Koeswoyo, salah satu personal Koes Plus, saat
 bertemu saya di kantor majalah Rolling Stone. Dalam
 usianya menjelang 68 tahun, Yon tampak penuh enerji. Dinamis. Tak heran
 jika malam itu, saat pementasan Earthfest2008, Yon
 mampu melantunkan sepuluh lagu tanpa henti. Sungguh luar biasa. ''Semua
 karena saya mencintai pekerjaan saya. Musik adalah
 dunia saya. Cinta saya. Hidup saya,'' katanya.


 Berbahagialah mereka yang menikmati pekerjaannya. Berbahagialah mereka
 yang sudah mencapai taraf bekerja adalah berekreasi.
 Sebab mereka sudah menemukan lentera jiwa mereka.

 

Thursday, August 14, 2008

Filosofi Pensil

Tue Aug 12, 2008 4:24 am (PDT)

Filosofi Pensil

"Setiap orang membuat kesalahan. Itulah sebabnya, pada setiap pensil
ada penghapusnya" (Pepatah Jepang)

Kali ini saya ingin menceritakan kepada Anda sebuah kisah penuh
hikmah dari sebatang pensil. Dikisahkan, sebuah pensil akan segera
dibungkus dan dijual ke pasar. Oleh pembuatnya, pensil itu
dinasihati mengenai tugas yang akan diembannya. Maka, beberapa
wejangan pun diberikan kepada si pensil. Inilah yang dikatakan oleh
si pembuat pensil tersebut kepada pensilnya.

"Wahai pensil, tugasmu yang pertama dan utama adalah membantu orang
sehingga memudahkan mereka menulis. Kamu boleh melakukan fungsi apa
pun, tapi tugas utamamu adalah sebagai alat penulis. Kalau kamu
gagal berfungsi sebagai alat tulis. Macet, rusak, maka tugas utamamu
gagal."

"Kedua, agar dirimu bisa berfungsi dengan sempurna, kamu akan
mengalami proses penajaman. Memang meyakitkan, tapi itulah yang akan
membuat dirimu menjadi berguna dan berfungsi optimal".

"Ketiga, yang penting bukanlah yang ada di luar dirimu. Yang
penting, yang utama dan yang paling berguna adalah yang ada di dalam
dirimu. Itulah yang membuat dirimu berharga dan berguna bagi
manusia".

"Keempat, kamu tidak bisa berfungsi sendirian. Agar bisa berguna dan
bermanfaat, maka kamu harus membiarkan dirimu bekerja sama dengan
manusia yang menggunakanmu" .

"Kelima. Di saat-saat terakhir, apa yang telah engkau hasilkan
itulah yang menunjukkan seberapa hebatnya dirimu yang sesungguhnya.
Bukanlah pensil utuh yang dianggap berhasil, melainkan pensil-pensil
yang telah membantu menghasilkan karya terbaik, yang berfungsi
hingga potongan terpendek. Itulah yang sebenarnya paling mencapai
tujuanmu dibuat".

Sejak itulah, pensil-pensil itu pun masuk ke dalam kotaknya,
dibungkus, dikemas, dan dijual ke pasar bagi para manusia yang
membutuhkannya.

Pembaca, pensil-pensil ini pun mengingatkan kita mengenai tujuan dan
misi kita berada di dunia ini. Saya pun percaya bahwa bukanlah tanpa
sebab kita berada dan diciptakan ataupun dilahirkan di dunia ini.
Yang jelas, ada sebuah purpose dalam diri kita yang perlu untuk
digenapi dan diselesaikan.

Sama seperti pensil itu, begitu pulalah diri kita yang berada di
dunia ini. Apa pun profesinya, saya yakin kesadaran kita mengenai
tujuan dan panggilan hidup kita, akan membuat hidup kita menjadi
semakin bermakna.

Hilang arah

Tidak mengherankan jika Victor Frankl yang memopulerkan Logoterapi,
yang dia sendiri pernah disiksa oleh Nazi, mengemukakan "tujuan
hidup yang jelas, membuat orang punya harapan serta tidak mengakhiri
hidupnya". Itulah sebabnya, tak mengherankan jika dikatakan bahwa
salah satu penyebab terbesar dari angka bunuh diri adalah kehilangan
arah ataupun tujuan hidup. Maka, dari filosofi pensil di atas kita
belajar mengenai lima hal penting dalam kehidupan.

Pertama, hidup harus punya tujuan yang pasti. Apapun kerja, profesi
atau pun peran yang kita mainkan di dunia ini, kita harus berdaya
guna. Jika tidak, maka sia-sialah tujuan diri kita diciptakan.
Celakanya, kita lahir tanpa sebuah instruksi ataupun buku manual
yang menjelaskan untuk apakah kita hadir di dunia ini. Pencarian
akan tujuan dan panggilan kita, menjadi tema penting selama kita
hidup di dunia.

Yang jelas, kehidupan kita dimaknakan untuk menjadi berguna dan
bermanfaat serta positif bagi orang-orang di sekitar kita, minimal
untuk orang-orang terdekat. Jika tidak demikian, maka kita useless.
Tidak ada gunanya. Sama seperti sebatang pensil yang tidak bisa
dipakai menulis, maka ia tidaklah berguna sama sekali.

Kedua, akan terjadi proses penajaman sehingga kita bisa berguna
optimal, oleh karena itulah, sering terjadi kesulitan, hambatan
ataupun tantangan. Semuanya berguna dan bermanfaat sehingga kita
selalu belajar darinya untuk menjadi lebih baik. Ingat kembali soal
Lee Iacocca, salah satu eksekutif yang justru menjadi besar dan
terkenal, setelah dia didepak keluar dari mobil Ford. Pengalaman itu
justru menjadi pemacu semangat baginya untuk berhasil di Chrysler.

Ingat pula, Donald Trump yang sempat diguncang masalah finansial dan
nyaris bangkrut. Namun, kebangkrutannya itulah yang justru menjadi
pelajaran dan motivasi baginya untuk sukses lebih langgeng. Kadang
penajaman itu 'sakit'. Namun, itulah yang justru akan memberikan
kesempatan kita mengeluarkan yang terbaik.

Ketiga, bagian internal diri kitalah yang akan berperan. Saya sering
menyaksikan banyak artis, ataupun bintang film yang terkenal, justru
yang hebat bukanlah karena mereka paling cantik ataupun paling
tampan. Tetapi, kemampuan dalam diri mereka, filosofi serta semangat
merekalah yang membuat mereka menjadi luar biasa. Demikian pula pada
diri kita. Pada akhirnya, apa yang ada di dalam diri kita seperti
karakter, kemampuan, bakat, motivasi, semangat, pola pikir itulah
yang akan lebih berdampak daripada tampilan luar diri kita.

Keempat, pensil pun mengajarkan agar bisa berfungsi sempurna kita
harus belajar bekerja sama dengan orang lain. Bayangkanlah seorang
aktor atau aktris yang tidak mau diatur sutradaranya. Bayangkan
seorang anak buah yang tidak mau diatur atasannya. Ataupun seorang
service provider yang tidak mau diatur oleh pelanggannya. Mereka
semua tidak akan berfungsi sempurna. Agar berhasil, kadang kita
harus belajar dari pensil untuk 'tunduk' dan membiarkan diri kita
berubah menjadi alat yang sempurna dengan belajar dan mendengar dari
ahlinya. Itulah sebabnya, kemampuan untuk belajar bekerja sama
dengan orang lain, mendengarkan orang lain, belajar dari 'guru' yang
lebih tahu adalah sesuatu yang membuat kita menjadi lebih baik.

Terakhir, pensil pun mengajarkan kita meninggalkan warisan yang
berharga melalui karya-karya yang kita tinggalkan. Tugas kita bukan
kembali dalam kondisi utuh dan sempurna, melainkan menjadikan diri
kita berarti dan berharga. Itulah filosofi 'memberi dan melayani'
yang diajarkan oleh Tuhan kita. Itulah sebabnya Ibu Teresa dari
Calcutta ataupun Albert Schweitzer yang melayani di Afrika lebih
mengumpamakan diri mereka seperti sebatang pensil yang dipakai oleh
Tuhan.

Yang penting, hingga pada akhir kehidupan kita ada karya ataupun
hasil berharga yang mampu kita tinggalkan. Tentu saja tidak perlu
yang heboh dan spektakuler.

Sumber: Filosofi Pensil oleh Anthony Dio Martin

 
My personal webhttp://pujakesula.blogspot.com  or  http://endyenblogs.multiply.com/journal 

Tips Nabi Meredam Konflik Antarumat Beragama

Tips Nabi Meredam Konflik Antarumat Beragama

Abdurrahman Abdurrahim

 

"Dua orang laki-laki, yang satu Muslim dan yang lain Yahudi, terlibat percekcokan. 'Demi Zat yang telah mengutamakan Muhammad dari seluruh alam …,' kata si  Muslim. 'Demi Zat Yang telah mengutamakan Musa dari seluruh alam …' timpal si Yahudi. Si Muslim mengangkat tangannya dan menampar wajah si Yahudi. Si Yahudi pun pergi menemui Nabi Saw. untuk mengadukan perselisihannya dengan si Muslim. Nabi pun memanggil si Muslim untuk mengonfirmasikan hal tersebut, dan si Muslim pun menceritakan hal serupa. Maka sabda Nabi, 'Janganlah mengutamakan aku atas Musa. Sungguh, semua manusia akan pingsan pada hari kiamat. Aku pun pingsan seperti mereka. Namun, aku menjadi orang yang pertama sadar. (Ketika sadar), aku telah mendapati Musa berdiri di samping 'Arasy. Aku tidak tahu, apakah Musa termasuk orang yang pingsan namun tersadar sebelum aku, atau dia termasuk yang diistimewakan Allah.'"(HR. Bukhari, vol 3, no 594).

 

Hadis ini menunjukkan kerendah-hatian Nabi, serta mengajarkan prinsip penanganan konflik antar pemeluk agama. Perselisihan, pertengkaran, bahkan perang bisa dihindari jika kita dapat mengendalikan ego, seperti teladan Nabi Muhammad ini. Agar konflik antar umat beragama dapat diredam, tokoh agama, apalagi umatnya, tidak sepatutnya menyombongkan diri di hadapan pemeluk/tokoh agama lain, memperebutkan klaim siapa yang paling hebat. Semua penganut beragama pasti menganggap nabinya lebih baik, dan akan mati-matian membelanya. Karena itu, daripada saling aktif bertengkar sehingga menimbulkan kerugian psikologis, harta, bahkan nyawa di kedua belah pihak, umat beragama hendaknya saling aktif berbuat baik. Sebab, yang mendapat pahala Allah bukanlah yang aktif bertengkar meributkan siapa yang lebih hebat dan memperebutkan klaim surga, tapi yang berserah diri pada Allah dan membuktikannya dengan perbuatan baik (amal saleh). Yang mengaku beragama Islam belum tentu masuk surga, jika tidak berserah diri dan berbuat baik.

 

Sebagian orang Yahudi dan Nasrani pun berebut klaim surga, sehingga Allah mengingatkan: 

 

"Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: 'Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani'. Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: 'Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar'. (Tidak demikian) bahkan barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Dan orang-orang Yahudi berkata: 'Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan', dan orang-orang Nasrani berkata: 'Orang-orang Yahudi itu tidak mempunyai suatu pegangan', padahal mereka (sama-sama) membaca Al-Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili di antara mereka pada hari kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya" (QS [2]: 111-113).  

 

Ini merupakan peringatan Allah bagi orang Yahudi, Nasrani, juga Muslim, agar tidak saling bertengkar karena berebut kapling surga. Siapa yang masuk surga atau neraka, biarlah Allah yang memutuskan nanti di akhirat. Di dunia ini, yang diperintahkan Allah bagi umat beragama adalah berserah diri kepada-Nya dan banyak-banyak berbuat baik, bukan sibuk bertengkar mengenai siapa yang paling hebat. Sebab, seringkali yang diributkan hanyalah identitas kosong, membela ego masing-masing dengan memakai alasan agama, sehingga timbul keributan antar pemeluk agama—bahkan, antar mazhab dalam satu agama yang sama. Padahal, jika betul-betul mengaku beragama, pengakuan ini harus dibuktikan dengan berbuat baik kepada sesama, dibuktikan dengan kemampuan mengendalikan nafsu, ego, tidak meninggikan diri, tidak menghina sesama.

 

Sering terjadi, karena sibuk bertengkar, umat beragama malah lupa berbuat baik.

 

Ini tidak berarti bahwa kita tidak boleh berdakwah menyebarkan Islam, bahkan wajib! Namun, dakwah itu dilakukan bukan dengan bertengkar atau saling tampar, tapi dengan bijaksana dan cara terbaik:

 

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang terbaik" (QS [16]: 125) "Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani), melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka." (QS [29]:46)

 

***

"Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan" (QS [6]: 108)

 

Bacaan lebih lanjut: Tafsir Al-Azhar, HAMKA, dan The Message of the Quran, M. Asad. (Surah [2]: 111-113; QS [16]: 125; QS [29]:46; dan QS [6]: 108).

 

Selanjutnya:

Jika Engkau Dihina

(Kisah seorang Yahudi yang menghina Nabi, balasan Aisyah terhadap hinaan ini, dan tips bijak Nabi menghadapi hinaan itu, dan cara beliau menasehati istrinya agar tidak terjerumus balik menghina).

 

Tidak Menghina

Kisah istri-arab Nabi yang melontarkan hinaan kepada istri-yahudi Nabi, "Dasar Perempuan Yahudi!", dan hukuman yang diberikan Nabi kepada istri-arabnya itu.



 
My personal webhttp://pujakesula.blogspot.com  or  http://endyenblogs.multiply.com/journal 

Sunday, August 3, 2008

Rosulullah SAW dan Pengemis Buta Yahudi

Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya,  Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya.

Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah SAW. Rasulullah SAW melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat.

Setelah wafatnya Rasulullah SAW, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari sahabat terdekat Rasulullah SAW yakni Abubakar RA berkunjung ke rumah anaknya Aisyah RA yang tidak lain tidak bukan merupakan isteri Rasulullah SAW dan beliau bertanya kepada anaknya itu, Anakku, adakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan?

Aisyah RA menjawab,Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja.
Apakah Itu?, tanya Abubakar RA. Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada disana, kata Aisyah RA.

Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abubakar RA mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya.
Ketika Abubakar RA mulai menyuapinya, sipengemis marah sambil menghardik, Siapakah kamu?
Abubakar RA menjawab,Aku orang yang biasa (mendatangi engkau).
Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku, bantah si pengemis buta itu.

Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah.
Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut, setelah itu ia berikan padaku, pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abubakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu,
Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW.

Seketika itu juga pengemis itu pun menangis mendengar penjelasan Abubakar RA, dan kemudian berkata,
Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia....


Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar RA saat itu juga dan sejak hari itu menjadi muslim.

Nah, wahai saudaraku, bisakah kita meneladani kemuliaan akhlaq Rasulullah SAW?
Atau adakah setidaknya niatan untuk meneladani beliau?
Beliau adalah ahsanul akhlaq, semulia-mulia akhlaq.

Kalaupun tidak bisa kita meneladani beliau seratus persen, alangkah baiknya kita berusaha meneladani sedikit demi sedikit, kita mulai dari apa yang kita sanggup melakukannya.

Sadaqah Jariah salah satu dari nya mudah dilakukan, pahalanya?
MasyaAllah.. ..macam meter taxi...jalan terus.

Sadaqah Jariah - Kebajikan yang tak berakhir.

1. Berikan al-Quran pada seseorang, dan setiap dibaca, Anda mendapatkan hasanah.

2. Sumbangkan kursi roda ke RS dan setiap orang sakit menggunakannya, Anda dapat hasanah.

4. Bantu pendidikan seorang anak.

5. Ajarkan seseorang sebuah do'a. Pada setiap bacaan do'a itu, Anda dapat hasanah.

6. Bagi CD Quran atau Do'a.

7. Terlibat dalam pembangunan sebuah mesjid.

8. Tempatkan pendingin air di tempat umum.

9. Tanam sebuah pohon. Setiap seseorang atau binatang berlindung dibawahnya, Anda dapat hasanah.

10. Bagikan email ini dengan orang lain. Jika seseorang menjalankan salah satu dari hal diatas, Anda dapat hasanah sampai hari Qiamat.

Aminnnnnn...


 
My personal webhttp://pujakesula.blogspot.com  or  www.rindurosul.wordpress.com  

Friday, August 1, 2008

Setiap insan punya kisah sendiri-sendiri

Dunia ini panggung sandiwara demikian dalam sebuah lagu, terlepas ada yg pro dan kontra dengan yang namanya lagu tetapi demikian ungkapan salah satu seniman.

Saya menjalani kehidupan dan dunia saya, para pembacapun demikian adanya, ada beberapa kesukaan, kebiasaan dan kesenangan yang terkadang sama dan berbeda antara satu orang dan yang lainnya, tetapi tidak ada yg sama persis keseluruhannya, kesemuanya di jadikan oleh Allah berbeda, berbangsa beda dan bersuku beda dan perbedaan-perbedaan lainnya yang diperintahkan dengan perbedaan itu untuk saling kenal dan bukan saling caci. Dan adapun saling kenal yang dimaksud sangat luas pengertiannya, diantaranya mengenali perbedaan bahasa, perbedaan kebiasaan, kebiasaan dalam adat bermasyarakat, perbedaan berfikir dan perbedaan-perbedaan yang lain.

Kyai zarkasyi pengasuh pon-pes Gontor mengatakan "Butuh ribuan pertemuan untuk menyatukan presepsi", betapa perbedaan pemikiran dan ide yg mendasar sangat mempengaruhi kebersamaan dan kerjasama dalam mewujudkan suatu tujuan, banyak orang pintar dan orang yg memiliki keahlian masing2, untuk mewujudkan suatu keinginan bersama yg kesemuanya harus saling mendukung dan saling melengkapi satu sama lain, tak satupun orang didunia ini sempurna, makluk paling sempurna sendiri rosulullah SAW membutuhkan sahabat yang juga mendukung kesempurnaan beliau, oleh sebab ini sangat diperlukan dalam diri kita, dalam sanubari kita untuk memahami kekurangan orang lain demi kerukunan dan persatuan, kesantunan pun akan lahir apabila kita faham akan kebutuhan dan pemikiran serta keinginan orang lain.

Semakin kita mengerti akan keinginan sesama kita, teman kita atau orang di lingkungan kita maka semakin sibuk kita untuk mengatur diri dan memposisikan diri kita sebaik mungkin, akhlak rosul adalah akhlak al-qur'an karna memang norma hidup bermasyarakat dan berbangsa berkehidupan dibumi telah tercantum dalam al-qur'an yang telah di contohkan oler rosulullah saw, maka lahirlah kebijakan dan sikap bijak dari rosulullah, beliau sangat berhati-hati dalam berkata-kata menghindari perkataan yg menyinggung orang lain, apalagi sahabatnya, al-hasil beliau sangat di cintai oleh seluruh sahabatnya, dan disegani oleh lawannya.

Semakin bijak seseorang, akan semakin rendah hati, maka akan semakin lembut dan santun pula akhlaknya, demikianlah yg kita usahakan dalam bergaul berhubungan dan berkontak kepada orang lain, kiranya kita akan bisa menciptakan suatu kesejukan untuk orang sekitar kita dan kita pun bisa sejuk karna feed back yang baik dan sejuk pula dari orang yang kita baiki, memang hal tersebut tak semulus membalikan tangan, ada ujian yang terkadang kita harus hadapi, karna kebiasaan orang dari sebelum bertemu dengan kita dia kasar misalnya, maka dia menghadapi kita pun disamakan dg orang itu, nah dalam hal ini kita sangat membutuhkan kesabaran dan ketabahan, kadang bahkan kita menolong orang dikembalikan dengan pencelakaan dll, demikian pulalah yg telah dialami pemimpin kita Rosulullah SAW idola kita.

Percayalah bahwa semua orang menginginkan dihargai, maka kuncinya harus sepandai mungkin menghargai orang lain untuk supaya kita di hargai.